Harga Nikel Tinggi Kabar Baik bagi Perusahaan Tambang

Penambang nikel besar yang terdaftar di bursa saham dan pemasok peralatan mengalami peningkatan fundamental tahun ini, menutupi kerugian dari tahun sebelumnya, di tengah melonjaknya harga nikel global.

PT Vale Indonesia, produsen nikel matte terbesar di Indonesia, mencatat kenaikan laba bersih sebesar 10,6% year-on-year (yoy) menjadi US$58,7 juta pada semester pertama tahun ini, menurut laporan keuangan terbarunya.

Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham INCO ini membukukan pendapatan sebesar $414,9 juta pada semester pertama tahun ini, naik 15 persen yoy dari $360,4 juta, meskipun produksi nikel matte turun 17 persen yoy menjadi 30.246 ton akibat adanya perbaikan pada fasilitas peleburan. Perusahaan memperkirakan akan memproduksi sekitar 64.000 ton nikel matte tahun ini, turun dari 72.237 ton pada tahun 2020.

“Kami berharap peningkatan produksi, pengendalian biaya dan proyeksi harga nikel yang tinggi akan [help maximize the company’s] pendapatan dan laba,” ujar Chief Financial Officer Vale Bernardus Irmanto dalam paparan publik hari Rabu. Harga nikel telah meningkat tahun ini karena kombinasi antara permintaan yang tinggi seiring dengan pembukaan kembali perekonomian yang mencari logam, yang terutama digunakan untuk memproduksi baja tahan karat, dan terbatasnya pasokan karena para penambang nikel, terutama di Indonesia, belum kembali ke kapasitas operasional penuh.

Akibat kenaikan harga global, harga acuan nikel Indonesia (HMA) mencapai $19.239 per metrik ton kering (dmt) pada bulan September, level tertinggi sejak Oktober 2017, saat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan HMA. Baca juga: Produksi nikel matte Vale Indonesia turun 20 persen di kuartal kedua Bernardus memperkirakan harga nikel akan berada di kisaran $17.000 hingga $18.000 per ton hingga akhir tahun. Ia juga mengatakan bahwa perusahaan telah menyerap 54,6% dari belanja modal (capex) tahunan sebesar $130 juta pada semester pertama untuk mempersiapkan pembangunan kembali tungku nikel yang dijadwalkan akan dimulai pada bulan November.

PT Aneka Tambang (Antam), perusahaan tambang besar milik negara yang terdiversifikasi, membukukan laba bersih sebesar Rp 630 miliar pada kuartal pertama, membalikkan kerugian sebesar Rp 281 miliar pada periode yang sama tahun lalu, yang juga disebabkan oleh harga yang tinggi. Perusahaan belum merilis laporan keuangan semester pertama. Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham ANTM ini mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 77% yoy menjadi Rp 9,21 triliun di kuartal pertama, meskipun produksi feronikelnya turun 0,23% yoy menjadi 6.300 ton. Antam menargetkan penjualan 25.000 ton feronikel pada akhir tahun. “Ini adalah sebuah peluang, karena Antam memiliki cadangan nikel yang cukup banyak,” ujar direktur keuangan dan manajemen risiko Antam, Anton Herdianto, pada hari Kamis.

Sementara itu, perusahaan alat berat PT United Tractors, anak perusahaan raksasa otomotif PT Astra International, mencatatkan kenaikan laba sebesar 11,19% menjadi Rp 4,51 triliun di semester pertama karena pendapatan naik 12,4% menjadi Rp 37,31 triliun, yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan peralatan dari penambang batu bara dan penambang nikel. Direktur United Tractors Iman Nurwahyu mencatat bahwa penambang nikel menyumbangkan 25 hingga 30 persen dari alat berat yang terjual pada semester pertama tahun ini, lebih tinggi dari kontribusi 20 persen pada periode yang sama tahun lalu. “Nikel adalah sektor baru kami tahun ini. Alokasi permintaan alat berat untuk nikel satu setengah hingga dua kali lebih besar [this year] dibandingkan tahun lalu,” katanya dalam paparan publik virtual pada hari Rabu.

Tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham UNTR, United Tractors mencatatkan kenaikan penjualan peralatan pertambangan sebesar 117 persen yoy menjadi 735 unit di paruh pertama tahun ini. Namun, perusahaan juga mengalami penundaan pengiriman alat berat ke pelanggan karena pandemi. Pihaknya tetap optimis kondisi akan kembali normal di babak kedua. Saham ANTM menguat 6,15 persen, sedangkan saham INCO dan UNTR masing-masing melemah 6,36 persen dan 20,36 persen pada hari Jumat, menurut data BEI.

Postingan Terbaru